Belitong Perkuat Posisi di Panggung Dunia Lewat International Seminar Island Talk, 364 Peserta Siap Dukung Revalidasi UNESCO Global Geopark

Editor : WELLY AKSONA

BELITUNG | SINERGIPOS.COM – Belitung kembali menegaskan komitmennya sebagai destinasi geopark kelas dunia melalui penyelenggaraan International Seminar “Island Talk”, sebuah forum internasional yang menjadi bagian penting dalam upaya edukasi, promosi, dan penguatan posisi Belitong UNESCO Global Geopark (UGGp) ditingkat global.

Seminar ini menjadi wadah bertukar pengetahuan, pengalaman, serta praktik terbaik dalam pengelolaan geopark kepulauan yang berkelanjutan. Kegiatan tersebut juga menjadi ajang memperkenalkan Belitung kepada jaringan UNESCO Global Geopark yang kini tersebar di 51 negara.

Sekretaris Umum Belitong UNESCO Global Geopark yang juga ex officio Kepala Dinas Pariwisata Kabupaten Belitung sekaligus Ketua Panitia Seminar Internasional UNESCO Global Geopark Belitong, Sastra Yuni Ardi, S.STP., M.A.P., mengatakan bahwa penyelenggaraan Island Talk merupakan langkah strategis untuk memperkuat eksistensi Belitung di tingkat internasional.

Menurut Sastra, sebagai geopark kepulauan pertama di Indonesia, Belitong memiliki visi besar menjadi World Center for Island Geopark Studies atau Pusat Studi Geopark Kepulauan Dunia.

“Visi tersebut terus diwujudkan melalui kolaborasi dengan berbagai kementerian, lembaga pemerintah, perguruan tinggi, hingga mitra akademik dari dalam dan luar negeri.
Melalui forum ini kami membangun jejaring global yang semakin kuat untuk mendorong riset, pendidikan, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat di wilayah kepulauan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, seminar internasional ini juga menjadi bagian dari persiapan penting menjelang proses Revalidasi UNESCO yang dijadwalkan berlangsung pada 3–7 Agustus mendatang.

Berbagai program, inovasi, dan bentuk kolaborasi yang dipresentasikan selama seminar diharapkan mampu menunjukkan komitmen Belitong dalam menjalankan prinsip-prinsip UNESCO Global Geopark, khususnya pada aspek edukasi, konservasi, dan pembangunan berkelanjutan.

Antusiasme terhadap kegiatan tersebut sangat tinggi. Hingga pelaksanaan seminar, tercatat 364 peserta telah melakukan registrasi. Mereka berasal dari berbagai kalangan, mulai dari akademisi dan mahasiswa, komunitas pengelola geosite, organisasi non-pemerintah (NGO), perangkat daerah, hingga berbagai instansi yang memiliki perhatian terhadap pengelolaan geopark dan pembangunan wilayah kepulauan.

Seminar internasional ini terselenggara melalui sinergi berbagai pemangku kepentingan, di antaranya Kementerian Pariwisata, Kementerian Kelautan dan Perikanan, serta Jaringan Geopark Indonesia (IGN). Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi bukti kuat komitmen bersama dalam mendorong pengembangan geopark kepulauan yang berkelanjutan dan berdaya saing global.

Rangkaian acara dibuka secara istimewa melalui pemutaran video opening remarks Menteri Pariwisata, Widiyanti Putri Wardhana, yang menyampaikan dukungannya terhadap pengembangan geopark sebagai instrumen pelestarian warisan geologi, budaya, dan lingkungan sekaligus motor penggerak ekonomi masyarakat lokal.

Seminar turut menghadirkan sejumlah pembicara nasional dan internasional, di antaranya Prof. Dietrich G. Bengen dari IPB University, R. Bambang Adhitya Nugraha selaku Direktur Jasa Bahari Kementerian Kelautan dan Perikanan, Prof. Ir. Mega Fatimah Rosana dari Universitas Padjadjaran, serta Joanne M. Pinat, General Manager Bohol UNESCO Global Geopark, Filipina.

Sementara itu, sesi panel diskusi menghadirkan Dr. Yunus Kusumabrata dari Dewan Pakar Komite Nasional Geopark Indonesia (KNGI) dan Dedy Irfan Bachri, Ketua Jaringan Geopark Indonesia (IGN), yang membahas berbagai isu strategis mengenai pengelolaan geopark kepulauan.

Melalui International Seminar “Island Talk”, Belitong UNESCO Global Geopark kembali menegaskan tekadnya menjadi pusat pembelajaran dan kolaborasi internasional bagi geopark kepulauan.

Forum ini diharapkan menjadi tonggak penting dalam memperkuat posisi Belitung di panggung dunia sebagai model pengelolaan geopark yang inovatif, inklusif, berkelanjutan, sekaligus mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat lokal melalui pelestarian warisan alam dan budaya.***

Komentar