“Itu pekerjaan tahun lalu,” kata Yudinan, Sabtu (26/9/2026).
Pernyataan tersebut menimbulkan pertanyaan mengenai daya tahan pekerjaan tambal jalan yang menggunakan anggaran negara tersebut.
Sebab, di lapangan terlihat kerusakan justru berada pada bagian yang sebelumnya telah dilakukan patching. Pada beberapa titik, bagian aspal lama dan area tambalan tampak tidak menyatu secara sempurna ketika mengalami kerusakan.
Kondisi ini kemudian memunculkan dugaan bahwa kualitas pekerjaan patching perlu dievaluasi, mulai dari proses persiapan permukaan jalan, perekatan, penggunaan material hingga proses penghamparan dan pemadatan.
Pengawasan Jadi Sorotan
Sorotan semakin menguat setelah Yudinan mengakui adanya kekurangan dalam pengawasan pekerjaan di lapangan.
“Sepertinya kurang dipantau di lapangan,” ujar Yudinan.
Pernyataan tersebut menjadi perhatian karena pengawasan merupakan bagian penting dalam memastikan pekerjaan pemeliharaan jalan dilaksanakan sesuai spesifikasi teknis dan standar mutu yang ditetapkan.
Apalagi, BPJN Bangka Belitung sendiri pada 2026 menyatakan terus mendorong kualitas dan kemantapan jalan nasional untuk mendukung konektivitas serta keselamatan pengguna jalan.
Dengan adanya kerusakan pada sejumlah titik patching di Desa Penggantungan, masyarakat tentu berharap pihak terkait tidak hanya melakukan penambalan kembali, tetapi juga melakukan evaluasi terhadap penyebab kerusakan.
Jika kerusakan kembali terjadi pada titik yang sama dalam waktu relatif singkat, persoalan tersebut bukan sekadar lubang di badan jalan. Publik berhak mengetahui apakah pekerjaan telah dilaksanakan sesuai spesifikasi, bagaimana proses pengawasannya, serta apakah kualitas material dan pelaksanaan di lapangan telah memenuhi ketentuan.






Komentar